Senin, 05 Agustus 2013

Nyanyian Cinta - "Ketika nada bercerita cinta"



Suatu malam, aku duduk di beranda kamar.
Ditemani semilir angin, kutatap bintang yang menempel di langit.
Tiba-tiba, kudengar suara nyanyianmu melagu merdu.
Ada rasa hangat tercipta perlahan.
Menjalar di hati yang telah lama sunyi mendamba sosokmu.
Lalu aku sadar, nyanyian itu hanya imajiku saja.
Karena, suaramu tak pernah pergi dari sudut hatiku.
Suara cinta yang selama ini tersimpan, jauh sebelum kamu sadar artiku.
Jauh sebelum kamu meninggalkan aku sendiri....

Cinta..., satu kata yang mampu menyihir segala bentuk rasa menjadi alunan nada. Satu kata yang memetamorfosa nada menjadi barisan cerita. Penggalan di atas adalah bagian dari 13 cerita pendek yang terinspirasi dari lagu yang menjadi soundtrack perjalanan cinta 12 penulis muda berbakat. Tentang romansa cinta pertama, rasa haru, pengkhianatan, tawa, dan luka yang terangkum dalam Nyanyian Cinta.

Jumat, 18 Januari 2013

Hari ke-8 : PUMP!!!

Akhirnya hari ini kembali loncat-loncat dan ngos-ngosan. Terima kasih, @jessichadian.
PUMP!! Jeje itu partner nge-pump sejak SMP. Beruntungnya masih sama-sama di satu kota sampai kuliah ini (padahal pindah-pindah).
Hari ini kami janjian bertemu untuk menunaikan hobi lama tersebut. Kami membeli kartu seharga 60.000 rupiah dan menuju PUMP!! Setelah menggesek kartu tersebut empat kali, dan menunggu antrian, kami pun nge-PUMP!! Hanya enam kali. Dan kami ngos-ngosan. Sudah lama tidak loncat-loncat di atas sana.
Setelah beristirahat sejenak, kami mencoba berbagai permainan lain di dalam sana. Mata kami tertuju pada alat gesek. Di sana tertera saldo sisa 8x.xxx. HAH?! Wah!!! Beruntung sekali kami hari ini :D
Kami bermain dan menyisakan saldo sebanyak 50.xxx untuk pertemuan selanjutnya.
Selesai.

Kamis, 17 Januari 2013

Hari ke-7 : Aku yang Bukan Kamu

Memang, katamu, aku benar.
Tetapi bukankah baru sekarang kau ucapkan?
Kau baru menyadari? Iya?
Lantas, salahkah aku?
Salahkah aku yang selama ini kau telantarkan tak merasakan apa-apa lagi?
Titik yang semakin tak kelihatan ketika coba kuraih.
Cahaya yang membuatku bangkit dan turut bercahaya.
Terlalu kaku.
Jangan kau lipat kakimu seperti itu, otakku tak mampu berpikir lebih lagi.
Suruh aku pergi!
Marah aku!
Pukul aku!
Berbalik, cabut semua harapan yang telah kau tempel di dinding sana.
Sudah saatnya untuk berpindah.

Aku yang bukan kamu

Selasa, 15 Januari 2013

Hari ke-6 : Pria di Bulan

Aku terbaring di bawah langit yang menyelingkuhi matahari. Seharusnya langit bersyukur memiliki matahari yang selalu setia menghampirimu, menemanimu selama penantian. Menantikan rembulan. Tetapi benarkah dia menantikan rembulan? Ceritakan padaku. Aku juga menantikannya.
Menantikanmu.
---
Sebenarnya aku telah melihatmu sejak beberapa jam yang lalu, namun kau tampak samar, tak sejelas saat ini. Bahkan jika aku memejamkan mata, aku masih bisa merasakanmu.
Apa? Apakah kau mengatakan sesuatu padaku? Oh, tolonglah, kau membuat aku lupa akan segalanya. Aku hanya merasakan kau memelukku. Seperti itu yang kau lakukan setiap kali kau datang. Aku suka.
Katakan padaku kau akan tetap di sini. Memelukku dengan hangat. Mengalahkan udara malam.
Kau membuatku tak bosan dan lelah untuk menyunggingkan senyum di bibir kecil ini. Semakin indah dengan iringan tarian bintang-bintang yang sangat manis.
---
Sampai kapan kau di sana? Tidak inginkah kau berada di sini seterusnya, untuk menemaniku? Tak apa kau tinggal di sini, meskipun benda yang kau tinggali harus pergi. Toh dia pasti kembali. Hanya menanti setengah hari. Menantilah bersamaku. Bersama langit.

Senin, 14 Januari 2013

Hari ke-5 : Memunggungi Kesedihan

"Hmm...."
"Jadi, aku paham kok...."
"Lalu?"
"Aku tidak pintar seperti mereka. Kamu mau aku jadi apa?"
"Bukan begitu maksudku..."
"Kamu mau aku jadi apa?! Aku turuti!" nada bicaranya meninggi.
"Hhh..." aku hanya tersenyum sinis.
"Aku serius...." kali ini dengan suara lirih.
---
Bukan apa-apa, aku hanya tak tega jika kuakhiri hubungan ini. Namun melihat kenyataan yang ada saat ini, aku lebih tak tega lagi jika kuteruskan hubungan ini. Tidak akan baik bagi aku maupun dia. Lalu aku harus bagaimana? Harus kuapakan hubungan ini?
"Pokoknya harus hari ini!" bisik malaikat padaku.
---
"Yah begitulah..." ucapku setelah menceritakan dengan sangat hati-hati.
Matanya berkaca-kaca menatapku dan mulutnya tetap terkunci. Aku meraih tangannya, mengusap-usap punggung tangannya. Aku mulai memikirkan kata-kata yang pantas aku ucapkan setelah ini.
Aku memutuskan untuk berpindah duduk ke sebelahnya. Aku kembali meraih tangan kanannya dan kuapit di antara kedua telapak tanganku. Dia bersandar di bahu kiriku.
"Aku suka setiap hari kamu marah-marah. Waktu aku balik marah, kamu malah merayuku agar tidak marah. Lalu kita tertawa bersama. Lucu, ya?" aku memandang lurus ke depan. Aku berusaha mencairkan suasana. Namun sepertinya topik yang kupilih kurang tepat. Dia hanya akan teringat kembali tentang hal-hal indah kami.
Dia tidak menjawab. Aku terdiam. Aku semakin takut untuk berucap. Aku diam. Aku memutar rekaman masa indah kami berdua, dan kenyataan yang ada sekarang. Di otak. Perasaanku berkecamuk. Marah, sedih, semua bercampur. Air mata pun tak sungkan menetes di pipiku.
"Mengapa menangis?" dia mendapatiku.
"Sedih saja tidak bisa menjadi masa depanmu. Kalau kamu, kenapa?"
"Aku menangis bahagia karena Tuhan menyempatkan aku memiliki kekasih sepertimu," dia tersenyum sangat manis. Membuatkupun tersenyum.
Aku senang. Aku bangga terhadapmu, Bunga. Aku bahagia sempat memilikimu.
---
Mereka bisa, tetapi tidak dengan aku, dan dia tentunya. Menurutku itu sah-sah saja. Dasar memulai kami dengan mereka saja berbeda. Faktor keberuntungan juga yang menentukan. Karena tidak mungkin sesuatu yang sama yang kita mulai, hasilnya akan sama juga. Tidak mungkin. Jika seperti itu adanya, hidup ini pasti garing. Yang akan terjadi adalah siapa saja bebas memilih apa yang akan ia mulai atas dasar hasil yang sudah ia ketahui.
Dan kini, saatnya melangkah maju dan memunggungi kesedihan.

Minggu, 13 Januari 2013

Hari ke-4 : Apa Sama?

Apa kamu sama seperti aku yang menahan tangis ketika ibuku memelukku?
Apa kamu sama seperti aku yang suka menebak isi hati orang dengan mengamati raut wajahnya?
Apa kamu sama seperti aku yang hari ini mengunduh materi ketika esok hari ujian?
Apa kamu sama seperti aku yang begitu mencintai kekasihku?
Apa kamu sama seperti aku yang gemar bersenandung ketika mandi?
Apa kamu sama seperti aku yang bermimpi tentang Negeri Sakura?
Apa kamu sama seperti aku yang hanya bisa menangis dan berdoa di kala merasa sepi?
Apa kamu sama seperti aku yang memiliki sahabat-sahabat yang tak dapat tergantikan?
Apa kamu sama seperti aku yang akan BT seharian jika kekasihku terlambat datang?
Apa kamu sama seperti aku yang menyimpan berjuta pertanyaan tentang diriku sendiri?
Apa kamu sama seperti aku yang begitu menggilai Chibi Maruko Chan?
Apa kamu sama seperti aku yang menyimpan kagum kepada seorang yang mustahil kagum kepadaku?
Apa kamu sama seperti aku yang ........... kelelahan belajar materi Fisika untuk UAS esok hari....zzZzzzZzzz.....*tertidur*